Di tengah rutinitas birokrasi yang kerap menjebak manusia dalam ritme monoton, Sekretaris Daerah Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengajak Aparatur Sipil Negara untuk berani melangkah keluar. Berdasarkan jalannya Rapat Koordinasi Teknis Pelaporan Inovasi Daerah di Aula Balai Kota Malang pada Kamis, 9 Juli 2026, ia menegaskan bahwa pengabdian tidak boleh sekadar menjadi mesin yang berjalan tanpa jiwa, melainkan harus melahirkan karya nyata melalui budaya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pandangan Erik Setyo Santoso, kenyamanan dalam pekerjaan administratif yang berulang berpotensi mematikan daya kritis dan ruang imajinasi para abdi negara. Menurut beliau, tantangan zaman yang kian kompleks menuntut perubahan paradigma kerja secara fundamental. ASN tidak boleh lagi hanya menjadi pengamat yang pasif di balik meja, melainkan harus bertindak sebagai kreator yang mampu menyempurnakan sistem pelayanan publik agar lebih adaptif, taktis, dan efisien.
"Kita seringnya, sebagai bagian dari Aparatur Sipil Negara yang menjalankan tata kelola pemerintahan ini, terjebak kepada ritme maraton dan monoton. Hanya datang, absen, lalu pulang. Rutinitas seperti itu bisa mematikan daya pikir untuk berinovasi. Padahal, kita dituntut melahirkan karya nyata di samping kinerja terbaik sehari-hari," terang Erik Setyo Santoso menggambarkan realitas yang perlu diubah.
Menurut penjelasan Erik Setyo Santoso, celah untuk melahirkan pembaruan sebenarnya senantiasa terbuka lebar melalui evaluasi berkala terhadap standar operasional prosedur yang berlaku. Beliau mendorong aparatur pemerintah untuk tidak terbelenggu oleh dogma masa lalu dan berani memangkas birokrasi yang berbelit. Konsepsi kerja yang usang harus segera ditinggalkan demi efektivitas pelayanan yang lebih dinamis.
"Jangan selalu bertanya, biasanya seperti apa? Tetapi mari kita lihat SOP yang ada, kita dalami, dan cari celah di mana kita bisa memperbarui serta meringkas alur kerja tersebut agar lebih efisien," tuturnya dengan nada penuh ajakan.
Berdasarkan pemaparan dalam rapat yang diinisiasi oleh Bappeda Kota Malang tersebut, akselerasi inovasi daerah ini juga memegang peranan krusial dalam menaikkan marwah dan daya saing Kota Malang di panggung nasional, khususnya pada ajang Innovative Government Award dari Kementerian Dalam Negeri. Keberhasilan dalam mengejawantahkan pembaruan ini pada gilirannya akan memperkuat kapasitas fiskal daerah melalui insentif dari pemerintah pusat.
Kendati demikian, sebuah kontradiksi ironis mengemuka dari data yang ada. Menurut laporan teknis, terdapat 494 potensi inovasi dari 465 unit kerja yang terdata, namun sebagian besar masih gugur dalam fase verifikasi akibat kendala administratif. Erik Setyo Santoso mengingatkan bahwa kuantitas yang melimpah tidak akan memiliki arti tanpa adanya ketepatan dalam pemenuhan indikator penilaian.
"Potensi kita besar, ada 494 inovasi dalam daftar panjang kita. Namun saat verifikasi, masih banyak yang kurang memenuhi persyaratan administratif untuk disebut sebagai inovasi. Oleh karena itu kualitas pelaporan dan pemenuhan indikatornya harus betul-betul kita lengkapi bersama," jelasnya lagi memberikan evaluasi.
Pada akhirnya, perjuangan melahirkan inovasi ini bukanlah sebuah perlombaan demi meraih trofi atau pengakuan artifisial semata. Menurut Erik Setyo Santoso, esensi sejati dari gerakan ini adalah melembagakan inovasi menjadi sebuah kesadaran kolektif dan nafas kerja sehari-hari, termasuk dengan mengadopsi kecerdasan buatan demi menjawab tantangan masa depan yang kian tak menentu.
"Tujuan akhir kita adalah menjadikan inovasi ini sebagai budaya, bukan lagi hal yang asing bagi kita. Inovasi yang sudah berjalan juga harus terus di-upgrade mengikuti perkembangan teknologi, seperti pemanfaatan Artificial Intelligence. Saya berharap peserta kegiatan, yakni sekretaris selaku motor penggerak mampu membangun ekosistem kerja yang mendukung dan memberikan ruang luas bagi hadirnya inovasi berkelanjutan," pungkasnya menutup pengarahan.