Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / ekonomi / Kenduri Sko Jambi: Tradisi 19 Tahun...
EKONOMI

Kenduri Sko Jambi: Tradisi 19 Tahun Lalu Kembali Dihidupkan

Prosesi ritual adat sakral Kenduri Sko masyarakat suku Kerinci di Kota Sungai Penuh, Jambi.

Prosesi ritual adat sakral Kenduri Sko masyarakat suku Kerinci di Kota Sungai Penuh, Jambi.

Pemerintah Provinsi Jambi memberikan apresiasi tinggi kepada para pemangku adat dan masyarakat Kota Sungai Penuh yang dinilai konsisten dalam menjaga serta melestarikan ritual adat Kenduri Sko. Tradisi lama khas suku Kerinci ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas kultural di tengah arus modernisasi.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Jambi, Al Haris, saat menghadiri acara Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh yang berlokasi di Tanah Mendapo, Kota Sungai Penuh. Kenduri Sko sendiri merupakan upacara adat sakral masyarakat suku Kerinci di Provinsi Jambi yang bertujuan untuk mengukuhkan gelar adat (sko) sekaligus menjadi wujud rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

"Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi. Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam dan sang pencipta, menunjukkan adat dan agama saling menguatkan," ungkap Al Haris dalam sambutannya.

Berdasarkan laporan yang dihimpun, penyelenggaraan Kenduri Sko kali ini menjadi momentum bersejarah karena merupakan yang pertama kalinya diadakan sejak status Sungai Penuh resmi mekar menjadi kota mandiri. Dari pantauan redaksi, ritual adat luhur ini terakhir kali dilaksanakan sekitar 19 tahun silam, ketika wilayah tersebut masih bergabung secara administratif dalam Kabupaten Kerinci.

Oleh karena itu, momentum ini dinilai sangat krusial untuk mengobarkan kembali semangat pelestarian nilai-nilai adat, terutama di kalangan generasi muda. Al Haris secara khusus memuji peran aktif para tokoh adat, orang tua, serta pemuda setempat yang telah bekerja keras menghidupkan kembali tradisi kultural tersebut.

Kehadiran dua kepala daerah, yakni Bupati Kerinci dan Wali Kota Sungai Penuh, dalam acara ini memperlihatkan adanya harmonisasi yang kuat antardaerah. Menurut pengamatan tim redaksi, kekompakan ini mencerminkan kesamaan pandangan dalam merawat ikatan sejarah, mengingat kedua wilayah tersebut dahulunya merupakan satu kesatuan sebelum dimekarkan.

Gubernur Al Haris berharap agar ritual Kenduri Sko mampu menumbuhkan kebanggaan serta rasa kepemilikan budaya daerah di sanubari generasi muda. Budaya lokal diharapkan tetap menjadi tuan rumah di tanah sendiri sekaligus berfungsi sebagai penyaring terhadap dampak negatif globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang masif.

Selain memberikan apresiasi, Gubernur Jambi juga mengimbau agar rumah adat beserta empat jenis simbol adat dapat segera diambil alih dan dibina secara terpusat oleh lembaga adat tunggal, yaitu Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Pengelompokan ini diharapkan mampu menjamin kesinambungan adat agar simbol-simbol tradisi tetap integral dalam gerak pembangunan daerah.

Di sisi lain, Wali Kota Sungai Penuh, Alfin Bakar, menyatakan komitmen penuh pemerintah kota dalam mendukung kesuksesan Kenduri Sko. Ia berharap sinergi berkelanjutan antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan tokoh masyarakat dapat menjadikan ritual ini sebagai agenda budaya unggulan yang mampu mendongkrak pariwisata budaya setempat.

"Melalui Kenduri Sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci," kata Alfin Bakar menegaskan.

// TOPICS
#kenduri_sko #jambi #sungai_penuh #kabupaten_kerinci #tradisi_indonesia #pariwisata_budaya #gubernur_jambi #al_haris
Jurnalis Daerah & Budaya - Spesialis Isu Lokal dan Kearifan Tradisional

Rudi Yanataro adalah jurnalis yang mendalami isu-isu daerah dan kebudayaan Indonesia. Dengan latar belakang sebagai antropolog budaya, ia memiliki pemahaman mendalam tentang kearifan lokal, adat istiadat, dan dinamika sosial di berbagai wilayah Nusantara. Liputannya yang dekat dengan masyarakat akar rumput menjadikannya jembatan antara peristiwa daerah dan audiens nasional. Ia juga aktif meliput pariwisata, seni tradisional, dan isu lingkungan di berbagai daerah di Indonesia.