Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / hukum / Bersih Desa Polowijen: Ikhtiar...
HUKUM

Bersih Desa Polowijen: Ikhtiar Budaya dan Kebersamaan Warga Malang

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Ketua DPRD Amithya Ratnanggani di Bersih Desa Polowijen 2026

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Ketua DPRD Amithya Ratnanggani di Bersih Desa Polowijen 2026

Di tengah kepungan modernitas yang kian menggerus eksistensi manusia, masyarakat Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, memilih untuk kembali memeluk akar sejarahnya. Pada Sabtu, 4 Juli 2026, sepanjang Jalan Polowijen II RT 01 RW 03 berubah menjadi panggung ritus komunal yang khidmat sekaligus meriah. Tradisi Bersih Desa Polowijen 2026 yang mengusung tema "Melestarikan Memperkuat Budaya Sebagai Identitas Polowijen" membuktikan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati; ia hidup dan berdenyut dalam denyut nadi kebersamaan warga.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lokasi, atmosfer gotong royong terasa begitu pekat sejak pagi hari. Warga dari berbagai usia berkumpul dengan mengenakan pakaian adat, menciptakan mosaik visual yang membawa ingatan kolektif pada kejayaan masa lampau. Dari pantauan redaksi, kegiatan ini bukan sekadar upacara formalitas, melainkan sebuah ruang perjumpaan di mana manusia melepaskan keasingan dirinya untuk menyatu dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta dalam sebuah ekspresi syukur yang autentik.

Pemerintah Kota Malang memberikan penghormatan tinggi atas inisiatif mandiri yang lahir dari rahim kepedulian masyarakat ini. Penjabat Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir di tengah-tengah warga, menegaskan bahwa ritual ini memiliki kedalaman makna yang melampaui sekat seremonial. Menurut beliau, agenda ini sejalan dengan implementasi Dasa Bakti Unggulan, khususnya Ngalam Asri, Ngalam Laris, dan Ngalam Asik.

"Kami atas nama Pemkot Malang sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ini adalah wujud syukur kita atas rida dan nikmat dari Allah SWT. Tradisi Bersih Desa ini harus terus kita lestarikan karena merupakan bagian dari silsilah dan sejarah yang kita miliki," terang Wahyu Hidayat dengan nada penuh takzim saat memberikan sambutan.

Rangkaian perayaan yang digelar berkala setiap dua tahun sekali ini sejatinya telah bergulir sejak 20 Juni 2026. Antusiasme masyarakat yang meluap-luap dalam setiap tahapan acara menunjukkan bahwa kesadaran akan identitas lokal masih tertanam kokoh. Menurut panitia, keterlibatan aktif warga menjadi benteng pertahanan terakhir dalam menjaga warisan leluhur dari kepunahan waktu.

Apresiasi senada juga mengalir dari Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita. Dari pantauan redaksi di area pasar rakyat, kehadiran festival budaya ini terbukti menjadi oase ekonomi bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Roda ekonomi lokal berputar cepat seiring dengan tumpah ruahnya pengunjung yang merayakan kegembiraan bersama.

"Saya sangat bangga karena UMKM di sini luar biasa laris. Acara ini dikemas dengan sangat meriah dan menghadirkan atmosfer kebahagiaan bagi warga. Ini menjadi modal penting agar kita siap menghadapi berbagai tantangan ke depan," tutur Amithya Ratnanggani Sirraduhita dengan penuh optimisme.

Lebih lanjut, Ketua DPRD Kota Malang tersebut menaruh harapan besar agar api kebersamaan ini tidak padam setelah obor perayaan diredam. "Semoga kebersamaan dan gotong royong warga Polowijen selalu terjaga, serta diberikan kesehatan dan kebahagiaan selalu," tambahnya, merumuskan sebuah doa bagi ketahanan sosial masyarakat.

Menurut Ketua Panitia Bersih Desa Polowijen 2026, Andri Basuki, tradisi ini adalah manifestasi konkret dari teologi syukur atas berkah kehidupan dan kelimpahan rezeki. Kehidupan, dalam segala kerumitannya, dirayakan melalui beragam ritual mulai dari doa bersama atau barikan, kirab budaya yang megah, karnaval, pengajian umum, hingga pementasan seni tradisional campursari.

"Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas. Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Polowijen atas dukungan yang diberikan. Kami juga memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan," pungkas Andri Basuki, menutup perayaan dengan kerendahan hati seorang manusia yang sadar akan batas-batas dirinya.

// TOPICS
#bersih_desa_polowijen #kota_malang #festival_budaya_jawa #umkm_malang #wahyu_hidayat #amithya_ratnanggani #tradisi_malang #seni_campursari
Jurnalis Daerah & Budaya - Spesialis Isu Lokal dan Kearifan Tradisional

Rudi Yanataro adalah jurnalis yang mendalami isu-isu daerah dan kebudayaan Indonesia. Dengan latar belakang sebagai antropolog budaya, ia memiliki pemahaman mendalam tentang kearifan lokal, adat istiadat, dan dinamika sosial di berbagai wilayah Nusantara. Liputannya yang dekat dengan masyarakat akar rumput menjadikannya jembatan antara peristiwa daerah dan audiens nasional. Ia juga aktif meliput pariwisata, seni tradisional, dan isu lingkungan di berbagai daerah di Indonesia.