Di tengah kepungan krisis eksistensial dan absurditas konflik yang mengoyak tatanan global, manusia kerap merindukan titik temu yang mendamaikan. Menurut Gubernur Banten Andra Soni, perhelatan International Grand Imams Conference (IGIC) yang dijadwalkan berlangsung pada 25 hingga 30 September 2026 di Jakarta dan Palembang, diharapkan mampu menelurkan keputusan-keputusan esensial yang membawa keteduhan bagi dunia yang kini terfragmentasi oleh ego geopolitik dan peperangan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lokasi, komitmen tersebut ditegaskan oleh Andra Soni saat menghadiri rangkaian agenda pra-acara IGIC di Masjid Baitul Mukhtar, BSD, Kabupaten Tangerang. Pertemuan yang sarat akan kesadaran spiritual ini turut merangkaikan perhelatan MTQ Imam Masjid se-Provinsi Banten serta pengukuhan Pengurus Wilayah dan Daerah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Banten.
Dari pantauan redaksi, atmosfer khidmat menyelimuti pelantikan yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. Menurut Andra Soni, forum ilmiah dan spiritual berskala internasional seperti IGIC memiliki signifikansi yang sangat strategis dalam membumikan nilai-nilai Islam sebagai "rahmatan lil alamin", sebuah kekuatan moral yang melampaui sekat-sekat perbedaan demi menegakkan solidaritas kemanusiaan.
"Eskalasi geopolitik dunia yang semakin tinggi akibat perang antarnegara, polarisasi sosial yang begitu tinggi, perubahan iklim sampai degradasi moral menjadi tantangan yang memerlukan solusi lintas sektor, lintas bangsa serta pendekatan agama," ungkap Andra Soni dengan nada retoris yang mendalam, menggambarkan kecemasan modernitas.
Berdasarkan pandangan sang Gubernur, di tengah keputusasaan moralitas global, bumi hari ini membutuhkan lebih banyak ruang dialektika yang dipenuhi oleh para figur penyeru kasih sayang. Oleh karena itu, beliau menyambut hangat kehadiran IGIC 2026 sebagai manifestasi nyata dari diplomasi keagamaan yang bergerak dari mimbar ke mimbar, menjadikan masjid bukan sekadar tempat bersujud, melainkan episentrum peradaban, ekonomi, dan pelahiran para pemimpin besar.
Menurut penuturan Menteri Agama Nasaruddin Umar, komitmen untuk mengupayakan resolusi konflik global melalui pendekatan spiritual ini menjadi langkah alternatif yang mendesak. Beliau mengamati bahwa institusi-institusi sekuler internasional sejauh ini kerap menemui jalan buntu dalam menghentikan peperangan, sehingga pendekatan keagamaan dari hati ke hati dirasa menjadi oase yang patut dicoba.
Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Ketua Umum IPIM, Nasaruddin Umar juga mengapresiasi inovasi pelaksanaan MTQ khusus imam masjid di Provinsi Banten yang dinilainya sebagai terobosan estetik untuk menguji kefasihan. "Saya juga kaget, ternyata peserta yang mendaftar begitu banyak, sudah lebih dari 200 orang. Ini artinya, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan seperti ini begitu tinggi," tuturnya di akhir diskursus tersebut.