Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / daerah / Ketegangan di Keraton Solo: Dua Kubu...
DAERAH

Ketegangan di Keraton Solo: Dua Kubu Terlibat Adu Mulut Jelang Upacara Adat

Tangkapan layar video viral pertengkaran dua kubu di dalam kawasan Keraton Solo

Tangkapan layar video viral pertengkaran dua kubu di dalam kawasan Keraton Solo

Kawasan cagar budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah rekaman video yang memperlihatkan perselisihan internal di dalam kompleks istana viral di media sosial Instagram pada Minggu (05/07). Berdasarkan pantauan redaksi, ketegangan tersebut melibatkan dua kelompok yang selama ini dikenal memiliki pandangan berbeda terkait pengelolaan tradisi di dalam keraton.

Dalam rekaman video yang beredar luas tersebut, tampak Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah, atau yang akrab disapa Gusti Moeng, terlibat adu mulut yang cukup sengit dengan seorang perempuan. Insiden ini terjadi di tengah persiapan upacara adat Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo yang diselenggarakan oleh kubu Pakubuwono XIV Purboyo. Kedua pihak bahkan terlihat sempat saling berebut karpet merah yang sedianya akan digunakan sebagai alas utama dalam prosesi sakral tersebut.

Menurut pengamatan dari video tersebut, sejumlah abdi dalem dan kerabat keraton yang berada di sekitar lokasi tampak tertegun dan berusaha merapikan perlengkapan upacara lainnya di tengah ketegangan. Situasi yang kian memanas membuat Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, yang juga merupakan suami dari Gusti Moeng, turun tangan dan berusaha melerai pertengkaran. Tak lama kemudian, salah satu kakak perempuan Pakubuwono XIV Purboyo, GKR Sekarjati atau Gusti Devi Leylana Dewi, terlihat mengabadikan momen konfrontasi itu menggunakan kamera ponselnya.

Berdasarkan keterangan dari juru bicara kubu Pakubuwono XIV Purboyo, KPA Singonagoro, pihaknya membenarkan terjadinya insiden memprihatinkan di dalam area keraton tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu bermula sekitar pukul 09.30 WIB ketika Bupati Estri, Anna Mujirahayu, tengah menata perlengkapan upacara di kawasan Sasana Parasediyo.

Menurut penuturan KPA Singonagoro, sejak pagi hari sebenarnya sudah beredar kabar burung bahwa pihak Gusti Moeng tidak akan membukakan pintu Kamandungan untuk keperluan upacara. "Puncaknya sekira pukul 09.30 WIB, Mbak Anna, Bupati Estri-nya Sinuhun itu mau menatap sajen dan juga tempat untuk Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo. Di situ, Mbak Anna ketemu dengan Gusti Moeng dan Gusti Moeng sempat ngata-ngatain segala macam itu, terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai Wilujengan," ujarnya saat memberikan konfirmasi resmi.

Lebih lanjut, KPA Singonagoro menyayangkan tindakan tersebut karena menilai pihak mereka tidak pernah mengganggu atau menghalangi kegiatan adat yang digelar oleh kelompok LDA. "Memang dari pihak kita itu tidak pernah ngrusuhi mereka atau menghalang-halangi acara mereka. Lha tiba-tiba Gusti Moeng kembali berulah seperti itu akhirnya mbak Anna juga jengkel dan sempat adu mulut berdebat di situ," tambahnya lagi.

Konfrontasi fisik dan verbal ini akhirnya mereda setelah perwakilan dari kedua kubu saling mengingatkan dan menarik diri dari lokasi pertengkaran. Dari laporan tim redaksi di lapangan, konflik internal yang kembali mencuat ke permukaan ini berdampak langsung pada jadwal ritual keraton. Rangkaian upacara adat Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo dilaporkan sempat mengalami penundaan hingga sekitar satu jam dari jadwal yang telah ditentukan.

// TOPICS
#keraton_solo #surakarta #gusti_moeng #pakubuwono_xiv_purboyo #konflik_internal #upacara_adat #jawa_tengah
Jurnalis Daerah & Budaya - Spesialis Isu Lokal dan Kearifan Tradisional

Rudi Yanataro adalah jurnalis yang mendalami isu-isu daerah dan kebudayaan Indonesia. Dengan latar belakang sebagai antropolog budaya, ia memiliki pemahaman mendalam tentang kearifan lokal, adat istiadat, dan dinamika sosial di berbagai wilayah Nusantara. Liputannya yang dekat dengan masyarakat akar rumput menjadikannya jembatan antara peristiwa daerah dan audiens nasional. Ia juga aktif meliput pariwisata, seni tradisional, dan isu lingkungan di berbagai daerah di Indonesia.