Dampak mematikan dari bencana gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela pada akhir Juni lalu terus meluas. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh otoritas setempat, jumlah korban meninggal dunia kini telah menembus angka 3.685 orang, sementara belasan ribu warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, menyampaikan pemutakhiran data tersebut melalui pernyataan resminya di saluran Telegram. Menurut pengamatan tim redaksi, skala kerusakan akibat bencana ini menjadi salah satu yang paling parah di kawasan Amerika Selatan dalam beberapa dekade terakhir.
"Sebanyak 3.685 orang meninggal, 16.740 terluka, dan 6.462 telah diselamatkan," kata Jorge Rodriguez dalam unggahan resminya pada Senin (6/7) waktu setempat. Lonjakan angka kematian ini terjadi seiring berjalannya proses evakuasi yang terus dilakukan oleh tim penyelamat di lokasi-lokasi terdampak paling parah.
Selain menjatuhkan ribuan korban jiwa, gempa hebat ini juga memicu krisis kemanusiaan yang akut. Menurut data terkini, sebanyak 17.907 orang terpaksa kehilangan tempat tinggal mereka setelah rumah-rumah mereka hancur rata dengan tanah, sementara sedikitnya 86.794 keluarga kini sangat bergantung pada bantuan darurat untuk bertahan hidup.
Dari pantauan redaksi, guna menampung para pengungsi yang telantar, otoritas setempat telah mendirikan total 87 kamp darurat sementara di berbagai wilayah terdampak. Hingga saat ini, sebanyak 9.603 ton pasokan makanan dan lebih dari 8,32 juta liter air bersih telah didistribusikan kepada para penyintas, dengan 25.970 warga di antaranya telah menerima perawatan medis intensif.
Bencana mematikan ini bermula pada Rabu, 24 Juni silam, ketika dua gempa bumi tektonik berkekuatan besar dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara di pesisir utara Amerika Selatan tersebut. Berdasarkan pencatatan seismologi, kedua guncangan besar itu terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.
Menurut analisis ahli, guncangan awal (foreshock) bermagnitudo 7,2 pertama kali melanda pada pukul 18.04 waktu setempat atau sekitar pukul 11.00 WIB. Selang 39 detik kemudian, gempa bumi utama (mainshock) yang jauh lebih kuat bermagnitudo 7,5 menyusul dan merubuhkan infrastruktur kota yang sudah melemah akibat guncangan pertama.