Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / daerah / Karhutla Kian Mengancam, Ratusan...
DAERAH

Karhutla Kian Mengancam, Ratusan Hektare Lahan di Kobar Hangus Terbakar

Petugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut yang meluas di Kalimantan Tengah

Petugas gabungan berusaha memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut yang meluas di Kalimantan Tengah

Di tengah kesunyian alam Kalimantan Tengah, sebuah tragedi eksistensial kembali berulang. Api, yang merepresentasikan takdir tak terelakkan dari tanah yang mengering, terus mengamuk tanpa ampun sepanjang Januari hingga Juli 2026. Wilayah Kotawaringin Barat (Kobar) dan Kotawaringin Timur (Kotim) kini terjebak dalam siklus kehancuran vegetasi yang seolah menegaskan absurditas perjuangan manusia melawan alam.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPBD Kobar, tercatat ada 63 kejadian karhutla yang merobek ketenangan dalam tujuh bulan terakhir. Angka ini bukanlah sekadar statistik mati, melainkan sebuah nestapa nyata di mana total 113,51 hektare lahan telah musnah menjadi abu, sementara satelit menangkap jeritan bumi berupa 85 titik panas atau hotspot yang menyala di berbagai sudut daerah.

Menurut Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar, Adnan Santana, tingginya angka kejadian ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi cuaca panas yang ekstrem serta tiupan angin kencang. Faktor-faktor alamiah ini membuat lidah api cepat membesar dan menjadi kekuatan yang sulit dikendalikan oleh tangan-tangan manusia yang fana.

"Kecamatan Arut Selatan menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak. Tercatat 30 kali kebakaran terjadi di wilayah tersebut dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 21,61 hektare," jelas Adnan Santana pada Senin (13/7/2026). Sifat api yang tak pilih kasih ini memperlihatkan kerapuhan kawasan subur tersebut.

Dari pantauan redaksi di lapangan, Kecamatan Kumai justru menjadi wilayah yang menanggung beban dampak paling masif. Meski frekuensi kejadiannya berada pada angka 25 kali, luas lahan yang hangus terbakar di sana mencapai 62,65 hektare. Angka yang mencakup lebih dari separuh total area yang binasa di seluruh seantero Kabupaten Kobar.

Dalam menghadapi absurditas kehancuran ini, manusia menolak untuk pasrah. Adnan menjelaskan bahwa setiap laporan kebakaran yang masuk segera direspons oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama unsur gabungan. Prioritas utama para petugas di lapangan adalah memutus rantai penyebaran api agar tidak meluas ke permukiman warga maupun kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi.

"Masyarakat segera melapor apabila menemukan titik api sekecil apa pun. Laporan yang cepat akan memudahkan petugas bergerak sehingga kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas," lanjut Adnan, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menghadapi bencana ini.

Sementara itu, berdasarkan amatan tim redaksi terhadap situasi di Kabupaten Kotawaringin Timur, ancaman serupa mengintai dengan tajam. Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni lima titik yang tersebar di Desa Soren, Desa Camba, dan Kelurahan Kota Besi Hulu. Dua di antaranya merupakan titik panas terbaru yang terdeteksi sejak 12 Juli 2026 pukul 01.35 WIB dengan radius indikasi mencapai 1.125 meter.

Tidak jauh berbeda, Kecamatan Parenggean juga mencatat lima hotspot yang seluruhnya berada di Desa Tehang. Satu titik menunjukkan tingkat kepercayaan (confidence level) 9, sedangkan empat lainnya berada pada level 8. Sementara itu, dua titik panas lainnya terpantau merayap di Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, dengan tingkat kepercayaan level 8.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyatakan bahwa meningkatnya jumlah hotspot ini menjadi alarm peringatan yang serius. Kondisi cuaca yang kering kerontang membuat lahan, terutama kawasan gambut yang menyimpan karbon purba, menjadi sangat rentan terhadap sulutan api terkecil sekalipun.

"Setiap titik panas yang terdeteksi melalui satelit langsung kami tindak lanjuti dengan patroli dan pengecekan di lapangan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, serta pihak terkait. Penanganan dini sangat penting agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas," kata Multazam pada Senin (13/7/2026).

Berdasarkan informasi teknis, seluruh hotspot tersebut terpantau melalui mata angkasa satelit NOAA-20 dan AQUA. Sebagian besar titik memiliki radius kemungkinan sekitar 321 meter, namun dua hotspot terbaru di Kecamatan Kota Besi menunjukkan anomali yang mencemaskan dengan radius indikasi mencapai 1.125 meter.

"Bertambahnya jumlah titik panas menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla di Kotim masih tinggi, sehingga sinergi antara pemerintah, petugas di lapangan, dan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah kebakaran yang lebih besar," pungkas Multazam menutup keterangannya, mengisyaratkan bahwa solidaritas kemanusiaan adalah satu-satunya benteng tersisa.

// TOPICS
#karhutla #kalimantan_tengah #kotawaringin_barat #kotawaringin_timur #bpbd #titik_panas #bencana_alam
Tim Jurnalis Nasional & Daerah

Redaksi Warta Kabayan terdiri dari jurnalis berpengalaman yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, berdedikasi untuk menyajikan berita nasional dan daerah paling lengkap dan terpercaya. Dari politik di Senayan hingga peristiwa di pelosok negeri, dari ekonomi makro hingga budaya lokal, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.