Aroma sakral dari upacara adat Tempong Tawar melayang pelan di udara Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyatu dengan hembusan angin yang membawa wangi tanah basah dan dedaunan rimba. Di halaman Galeri Cagar Budaya, tangan-tangan pemangku adat bergerak tenang, membaluri tamu kehormatan dengan tumbukan beras putih, kunyit, dan batang tebu. Ritual warisan leluhur Suku Ulun Darat Basap ini menjadi bisikan doa agar langkah yang diambil senantiasa dilindungi.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, ritual pembuka ini bukan sekadar tradisi menyambut tamu, tetapi juga jantung dari perjalanan panjang kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Kawasan ini sekarang sedang berjuang membuktikan diri layak diakui sebagai Geopark Nasional, hingga kelak melangkah menjadi Warisan Dunia UNESCO. Selama lima hari pada 6 hingga 10 Juli 2026, Tim Verifikasi Geopark Nasional meninjau bentang karst seluas sekitar 1,8 juta hektare tersebut.
Tim penilai yang dipimpin oleh Prof. Mega Fatimah Rosana melakukan pemeriksaan yang bukan sekadar urusan dokumen atau peninjauan lokasi semata. Langkah ini merupakan pertemuan antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan leluhur, serta upaya manusia menjaganya untuk masa depan. Di setiap jejak langkah tim penilai, tersimpan cerita tentang keseimbangan pertambangan yang memberi nafkah hari ini dengan hutan dan karst yang menjaga kehidupan esok.
Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, kawasan ini memiliki kekayaan alam yang sangat masif. "Kita berdiri di atas bentang karst tropis terluas dan terlengkap di Indonesia," ujar Sri, yang juga Ketua Pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, saat menyambut tim penilai di Bandara APT Pranoto Samarinda.
Dari amatan tim redaksi, kawasan yang terbentang dari ujung Kutai Timur hingga Kabupaten Berau ini menyimpan kisah masa lalu tentang pembentukan bumi, sekaligus menjadi rumah bagi ribuan jenis tumbuhan dan hewan. Potensi mengagumkan dari Geopark Sangkulirang-Mangkalihat ini tercermin dari cadangan karbonnya yang mencapai 275,57 gigaton karbon, yang mampu menekan emisi gas rumah kaca Kalimantan Timur hingga 16,04 persen setiap tahun.
Dalam perjalanan darat menuju Sangatta, rombongan sempat singgah di Rest Area Beppa Janda, Desa Teluk Singkama. Di sana, geliat ekonomi lokal yang berbasis kebudayaan lokal tampak nyata. Pengusaha kuliner setempat, Muhammad Zulkarnain, menceritakan bahwa usahanya kini sanggup menghasilkan 15.000 buah kue tradisional per hari dan memberi nafkah bagi 100 orang warga sekitar. Ini menjadi bukti bagi tim verifikasi bahwa geopark dapat menjadi sumber kehidupan yang nyata bagi masyarakat.
Saat tiba di pendopo rumah jabatan Bupati Kutai Timur, komitmen pelestarian lingkungan kembali ditegaskan. Bupati Ardiansyah Sulaiman mengakui bahwa wilayahnya selama ini lebih dikenal sebagai lumbung batu bara nasional, namun ia memastikan kelestarian alam tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
"Lebih dari separuh wilayah Kutim masih berupa hutan terjaga, termasuk Taman Nasional Kutai dan kawasan lindung lainnya," kata Ardiansyah Sulaiman. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah telah memastikan tidak ada izin tambang yang menyentuh kawasan inti karst di Sekerat dan Kaliorang agar pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kutai Timur, Rizali Hadi, menambahkan bahwa tujuan pengembangan geopark ini mengedepankan tiga pilar yang tidak terpisahkan, yaitu konservasi, edukasi, dan kesejahteraan rakyat. Kawasan ini sendiri memiliki 26 situs penting yang tersebar di wilayah Berau dan Kutai Timur, termasuk Goa Mengkuris, Liyang Tewet Bengalon, hingga Air Terjun Tangga Bidadari yang menyimpan jejak manusia purba.
Ketua Tim Verifikasi, Prof. Mega Fatimah Rosana, yang juga menjabat Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, mengaku terpesona dengan kekayaan Sangkulirang-Mangkalihat setelah melihat langsung di lapangan. Hasil verifikasi lapangan ini selanjutnya akan diserahkan kepada Kementerian ESDM untuk dibahas lintas kementerian sebelum status Geopark Nasional disahkan secara resmi, yang akan membuka lebar pintu menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.