Ratusan sopir truk menggelar aksi unjuk rasa di depan depo kontainer PT Global Terminal Marunda (GTM) di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, akibat antrean pembuangan peti kemas kosong yang mengular hingga berhari-hari.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan amatan di lokasi, kemacetan panjang kendaraan logistik ini telah menutup sebagian akses jalan umum, yang memicu keluhan tidak hanya dari para pengemudi truk tetapi juga warga sekitar yang aktivitasnya terganggu.
Para sopir mengaku terpaksa bermalam di dalam kabin kendaraan mereka selama satu hingga tiga hari tanpa adanya kepastian kapan proses bongkar muat kontainer dapat diselesaikan oleh pihak pengelola depo.
Menurut salah seorang sopir truk yang ikut dalam aksi tersebut, Eben Manulang, kemacetan parah ini dipicu oleh kapasitas tampung depo yang telah melebihi batas (overload), sehingga tidak lagi mampu menyerap arus peti kemas yang terus berdatangan.
"Ini terjadi kemacetan pembuangan peti kemas ke Depo GTM. Kendalanya karena deponya overload. Mereka enggak bisa memberikan solusi yang terbaik buat sopir," kata Eben saat ditemui di sela-sela aksi protes.
Eben menambahkan bahwa para sopir sengaja berkumpul untuk menyuarakan keluhan mereka karena merasa diabaikan oleh manajemen perusahaan. "Kadang sudah sampai tiga hari, dua hari kita ngantre di sini, enggak dapat solusi dari pihak GTM. Makanya sopir-sopir ngumpul untuk berorasi mencari solusi yang terbaik buat kita," ujarnya.
Dalam tuntutannya, massa meminta pihak pengelola PT Global Terminal Marunda untuk memberikan kompensasi logistik seperti bantuan makanan selama masa tunggu yang tidak wajar ini, serta mendesak adanya pembenahan sistem operasional yang dinilai tidak terorganisasi dengan baik.
Dari pantauan redaksi, penumpukan ini terjadi karena volume kontainer masuk jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah peti kemas yang dikeluarkan dari area depo, ditambah dengan penuhnya kapasitas depo cadangan.
Eben mengisahkan, dirinya sudah terjebak di jalur antrean selama hampir 24 jam penuh sejak berangkat dari kawasan Cakung pada Selasa sore. "Antreannya enggak terorganisir. Kita muter-muter terus cari antrean tapi enggak dapat-dapat," ucapnya menerangkan situasi di lapangan.
Situasi ini kontras dengan kondisi operasional normal, di mana siklus pengiriman barang hingga pengembalian kontainer kosong biasanya dapat rampung dalam waktu kurang dari satu hari.