Di tengah kesunyian kota yang terus bergerak mencari maknanya, predikat Kota Malang sebagai UNESCO Creative City of Media Arts kini menjelma menjadi sebuah pijakan sekaligus tanggung jawab eksistensial. Berbekal pencapaian tersebut, Pemerintah Kota Malang menunjukkan komitmen mutlak untuk menjadikan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai motor penggerak utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pernyataan dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat menghadiri Temu Mitra Pariwisata Kota Malang di Gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), arah pembangunan pariwisata kini telah bergeser. Kota ini tidak lagi sekadar menawarkan takdir destinasi fisik yang statis, melainkan menyajikan pengalaman, narasi, kebudayaan, serta kreativitas yang menjadi detak jantung identitas kota, selaras dengan visi Menuju Malang Mbois Berkelas.
Menurut Wahyu Hidayat, Pemkot Malang telah merancang serangkaian program strategis demi menghidupkan visi tersebut. Salah satu langkah konkretnya adalah penguatan program 1.000 event untuk mengisi ruang waktu sepanjang tahun, ditambah dengan pengembangan Dasa Bakti Ngalam Asyik sebagai ruang kontemplasi dan pertumbuhan seni, budaya, serta aktivitas publik yang memperkuat posisi Malang di peta dunia kreatif.
Ekosistem ini ditopang melalui jalinan kolaborasi yang erat antara komunitas, pelaku UMKM, startup kreatif, perguruan tinggi, hingga industri media. Revitalisasi kampung-kampung tematik sebagai destinasi berbasis masyarakat berkelanjutan juga digalakkan, beriringan dengan digitalisasi promosi melalui platform modern dan keterlibatan para kreator konten.
Lebih lanjut, pengembangan paket wisata terpadu yang merajut wisata heritage, kuliner, edukasi, belanja, hingga sport tourism menjadi fokus utama agar pelancong menemukan kedalaman makna dalam kunjungannya. "Peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata juga terus kami lakukan melalui pelatihan pelayanan prima, penguasaan teknologi digital, penguatan hospitality, serta pengembangan kompetensi pelaku ekonomi kreatif," urai Wahyu.
Dalam menghadapi absurditas tantangan zaman, seluruh ikhtiar ini bermuara pada ambisi kolektif untuk membawa Kota Malang bersaing di kancah internasional tanpa menanggalkan kelestarian budaya, kebersihan, keamanan, dan pemberdayaan masyarakat lokal. "Oleh karena itu, melalui kegiatan ini saya berharap terbangun semangat untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan wisata sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan pariwisata Kota Malang yang berkelanjutan," pungkasnya.