Ketegangan melanda kawasan Jalan Akasia XVI, Denpasar Timur, Bali, setelah keributan antarpenghuni kos pecah pada Rabu dini hari. Berdasarkan laporan pihak kepolisian, insiden baku hantam ini dipicu oleh aksi sekelompok orang yang merayakan kemenangan tim nasional Argentina dalam turnamen Piala Dunia 2026 secara berlebihan hingga mengganggu warga sekitar yang sedang beristirahat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, euforia turnamen sepak bola terbesar di dunia ini memang terasa kuat di berbagai sudut Kota Denpasar. Namun, selebrasi yang awalnya penuh kegembiraan berubah menjadi petaka ketika kelompok pemuda yang baru saja kembali dari lokasi nonton bareng di Jalan Tukad Badung melakukan aksi provokatif dengan menggeber-geber sepeda motor mereka.
Menurut Kasi Humas Polresta Denpasar, Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, aksi tersebut memicu kemarahan penghuni kos lainnya. "Karena klub favoritnya menang, saksi merayakan kegembiraannya sampai di depan kosnya sambil geber-geber motor dan berteriak "Argentina menang"," ujar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan investigasi di lapangan, suara bising dari knalpot motor dan teriakan histeris tersebut langsung mengusik ketenangan malam. Seorang penghuni kos berinisial SD yang merasa terganggu mencoba keluar untuk memberikan teguran. Kendati demikian, teguran lisan itu direspons secara agresif oleh kelompok peraya kemenangan.
Menurut pengamatan tim redaksi dari kronologi kejadian, situasi kian memanas karena kedua belah pihak diduga berada di bawah pengaruh minuman beralkohol yang dikonsumsi selama acara nonton bareng. Adu mulut yang sengit pun tidak terhindarkan dan dalam waktu singkat berubah menjadi perkelahian fisik secara massal.
Keributan yang semakin tidak terkendali itu diwarnai dengan aksi saling lempar batu antarpenghuni. Suara benturan batu dan teriakan kemarahan spontan mengundang perhatian warga sekitar serta memicu kepanikan di lingkungan pemukiman yang padat tersebut.
Iptu I Gede Adi Saputra Jaya membenarkan bahwa faktor minuman keras menjadi pemicu utama eskalasi kekerasan malam itu. "Karena pengaruh alkohol ada salah satu teman saksi tidak terima dan terjadi cekcok mulut dan berkembang keributan," tambahnya saat menjelaskan situasi psikologis para pelaku di lokasi kejadian.
Aksi anarkis tersebut baru berhasil diredam setelah petugas keamanan adat Bali atau pecalang bersama aparat kepolisian dari Polsek Denpasar Timur tiba di lokasi kejadian setelah menerima laporan dari warga setempat. Petugas langsung memisahkan kedua kubu yang bertikai dan mengamankan situasi sekitar.
Kasus ini akhirnya diselesaikan melalui jalur kekeluargaan setelah pihak kepolisian, aparatur desa, dan pecalang memfasilitasi proses perdamaian. "Kedua belah pihak dilakukan mediasi oleh petugas Polsek Denpasar Timur bersama pecalang dan aparat desa," pungkas Iptu I Gede Adi Saputra Jaya memastikan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk tidak memperpanjang konflik.