Warta Kabayan Warta Kabayan
/home / hukum / Krisis Air Tasikmalaya: Kemandirian...
HUKUM

Krisis Air Tasikmalaya: Kemandirian Warga Gareumpay Hadapi Kemarau

Warga mengambil air bersih dari penampungan swadaya di Kampung Gareumpay Tasikmalaya

Warga mengambil air bersih dari penampungan swadaya di Kampung Gareumpay Tasikmalaya

Di tengah ancaman musim kemarau yang kian menyengat pada Juli 2026 ini, warga Kampung Gareumpay, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya, berhasil membuktikan bahwa kemandirian lokal mampu menjadi jawaban atas persoalan krusial. Melalui semangat gotong royong dan kekompakan yang kokoh, mereka sukses membangun jaringan air bersih secara swadaya tanpa menyentuh sepeser pun bantuan dari pemerintah.

Inisiatif yang luar biasa ini tidak sekadar menjamin pasokan air bagi sekitar 150 kepala keluarga di kampung tersebut, tetapi juga menjadi tumpuan hidup bagi ratusan warga Kelurahan Singkup lainnya yang kini dilanda kekeringan. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, pengelolaan air bersih yang dikelola secara mandiri ini bahkan mampu membiayai operasional masjid setempat hingga mendukung pembangunan madrasah baru.

Menurut penuturan Edi Supriadi, salah seorang tokoh masyarakat Gareumpay, upaya pembangunan sumber air ini sejatinya telah dirintis sejak belasan tahun silam. "Pembangunan sumber air ini sudah berjalan sejak 2011. Sejak saat itu, kami tak pernah mengalami krisis air bersih," ungkapnya saat ditemui pada Kamis (16/7/2026).

Gerakan swadaya ini bermula dari rasa frustrasi warga terhadap sulitnya mendapatkan air bersih di wilayah mereka. Kala itu, pembuatan sumur bor dinilai bukan pilihan yang realistis lantaran membutuhkan biaya hingga puluhan juta rupiah untuk mencapai kedalaman 100 meter, tanpa adanya jaminan air akan tetap mengalir deras saat musim kemarau tiba. Dari pantauan redaksi, rasa prihatin juga memuncak ketika warga melihat kaum perempuan harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer setiap hari hanya untuk mencuci pakaian.

"Saat itu kami menemukan mata air di sebuah tebing di daerah Margabakti Kecamatan Cibeureum. Jaraknya lebih dari 1 kilometer," kenang Edi saat menceritakan awal mula penemuan sumber air tersebut.

Melalui musyawarah mufakat yang digelar di Masjid Al Ikhwan, muncul sebuah ide nekat untuk mengalirkan air dari sumber di tebing tersebut menuju kampung mereka. Meski modal awal yang terkumpul sangat terbatas, warga sepakat untuk melangkah bersama.

"Warga sepakat, waktu itu terkumpul uang sekitar Rp 900 ribu. Sementara jarak sekitar 1.000 meter. Pasti nggak cukup, tapi kita tetap lakoni, yang penting ikhtiarnya dulu," ujar Edi menegaskan semangat awal warga.

Keterbatasan dana di masa-masa awal memaksa warga untuk menggunakan pipa instalasi listrik berukuran kecil yang tidak memenuhi standar. Sementara di lokasi mata air, mereka hanya sanggup membangun bak penampungan yang sangat sederhana.

"Pikiran kita waktu itu, yang penting air mengalir dulu. Soalnya kita juga belum tahu elevasi dari titik mata air itu bisa sampai nggak ke kampung kami," papar Edi menambahkan.

Setelah melalui serangkaian percobaan yang melelahkan, air akhirnya berhasil mencapai area dekat masjid kampung. Warga kemudian bahu-membahu membangun bak penampung serta menggunakan pompa mekanis guna mendorong air ke tandon utama yang terletak di atap beton Masjid Al Ikhwan.

Kini, sistem distribusi air tersebut dikelola secara profesional oleh pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dengan pemasangan meteran air di setiap rumah warga. Setiap rumah membayar iuran bulanan secara transparan berdasarkan volume pemakaian.

"Rata-rata pendapatan sekitar Rp2,5 jeti sebulan. Kita pasang tarif Rp 10 ribu per kubik. Semua uang masuk ke kas DKM," kata Edi menjelaskan sistem keuangan mikro tersebut.

Keberhasilan sistem ini mampu bertahan selama 15 tahun terakhir berkat adanya rasa tanggung jawab kolektif yang tinggi dari warga setempat. Tanpa adanya pengelola yang digaji, seluruh pendapatan dari iuran air tersebut dikembalikan sepenuhnya untuk pemeliharaan dan pengembangan fasilitas air bersih.

"Sekarang kita bisa membebaskan lahan di sumber air seluas 10 bata, seharga Rp10 juta. Membebaskan lahan dan membangun bak penampungan di dekat masjid. Mengganti pipa dengan selang HDPE seharga Rp16 juta, membeli meteran, sampai membangun bak penampungan dan membeli 11 unit pompa air," papar Edi mendetailkan alokasi dana kas mereka.

Hebatnya lagi, hasil pengelolaan air bersih ini ternyata mampu menopang seluruh kegiatan sosial keagamaan di kampung tersebut secara mandiri.

"Pokoknya ini konsepnya dari masyarakat untuk masyarakat. Hasil dari ini bisa bangun madrasah, kalau acara di masjid seperti Rajaban, pengajian rutin sudah nggak pusing lagi. Pokoknya semua kebutuhan masjid semua bisa ditangani. Air bersih terpenuhi, masjid jadi makmur," tutur Edi penuh syukur.

Di tengah hantaman kemarau panjang saat ini, instalasi air di DKM Al Ikhwan ini menjelma menjadi penyelamat bagi warga dari luar kampung yang mengalami krisis air. "Modal kami hanya kompak, guyub. Yang punya uang menyumbang, yang punya tenaga ikut kerja, kita gotong royong," lanjut Edi.

Edi juga mengenang masa-masa sulit dahulu saat warga harus rela terjaga semalaman demi memastikan pompa air tidak mengalami kerusakan akibat panas berlebih. Namun, seiring dengan bertambahnya saldo kas, teknologi otomatis kini telah berhasil diterapkan.

"Alhamdulillah sekarang nggak usah begadang lagi, karena kita mampu membeli alat agar hidup mati pompa bisa otomatis," selorohnya.

Kekhawatiran mengenai pipa bocor atau pecah pun kini telah sirna dari benak warga. "Sekarang aman, mau diinjak kerbau juga nggak masalah, karena pakai selang mahal," kelakarnya.

Manfaat nyata dari keberadaan instalasi air swadaya ini dirasakan langsung oleh Ade Kurnia (33), seorang warga dari Kampung Babakan. Ia mengaku terpaksa menempuh jarak sejauh dua kilometer ke Kampung Gareumpay lantaran sumur di rumahnya sudah kering kerontang.

"Untung di Gareumpay ada sumber air, jadi bisa ambil dari sini. Dua hari sekali saya ambil 30 galon," kata Ade saat ditemui di lokasi penampungan air.

Menurut penuturan Ade, krisis air bersih di Kelurahan Singkup memang tergolong parah akibat kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi. Sumur sedalam 38 meter di rumahnya kini sudah tidak lagi mengeluarkan air.

"Air disini susah, karena dataran tinggi. Sumur yang kedalamannya 38 meter juga kering. Kata tukang sumur kalau ingin ada air harus kedalaman 140 meter lebih, baru bisa ada airnya," jelas Ade pasrah.

Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh, Ade mengaku sangat terbantu dengan adanya inisiatif mandiri dari warga Gareumpay ini. "Sangat terbantu ada penampungan air disini. Soalnya kalau harus bikin sumur, mahal. Mengambil dari sini, saya menyumbang Rp1.000 untuk 3 galon," pungkasnya.

// TOPICS
#tasikmalaya #krisis_air_bersih #kemarau_2026 #swadaya_masyarakat #kemandirian_lokal #jawa_barat #inspirasi_warga
Tim Jurnalis Nasional & Daerah

Redaksi Warta Kabayan terdiri dari jurnalis berpengalaman yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, berdedikasi untuk menyajikan berita nasional dan daerah paling lengkap dan terpercaya. Dari politik di Senayan hingga peristiwa di pelosok negeri, dari ekonomi makro hingga budaya lokal, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.