Di tengah bentangan takdir yang mempertemukan dua kebudayaan, sebuah harapan tentang martabat ekonomi lokal mulai disuarakan. Kunjungan delegasi Hyejeon University dari Korea Selatan ke Kota Medan kini tidak lagi sekadar menjadi panggung formalitas bagi pertukaran ilmu kuliner semata. Berdasarkan pandangan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, momentum krusial ini harus dikonversi menjadi sebuah ikhtiar besar dalam memperkenalkan produk-produk UMKM Kota Medan ke panggung dunia yang lebih luas.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Hasrat itu mengemuka dengan jernih ketika Rico Waas menerima audiensi dari Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Utara di Rumah Dinas Wali Kota Medan pada Jumat, 10 Juli 2026. Pertemuan tersebut secara khusus membahas kesiapan penyambutan delegasi akademis dari negeri ginseng, sekaligus penyelarasan agenda K-Food Global Culinary Challenge 2026. Dalam ruang yang sarat akan visi itu, sang Wali Kota menegaskan bahwa Pemko Medan siap memberikan dukungan total demi memastikan setiap jengkal kegiatan ini menorehkan dampak nyata bagi pariwisata, budaya, serta para pelaku usaha lokal.
Menurut Rico Waas, kesadaran untuk memperkenalkan identitas kota dapat dimulai dari ruang-ruang kreatif seperti Galeri Dekranasda. Tempat tersebut dinilai sebagai cerminan paling jujur dari wajah ekonomi kreatif Kota Medan. Oleh sebab itu, ia menginstruksikan agar seluruh delegasi diarahkan untuk menyaksikan langsung kurasi produk lokal, mulai dari keanggunan kerajinan tangan, dinamika fesyen, hingga keotentikan makanan ringan khas yang lahir dari rahim UMKM Medan.
"Biarkan mereka melihat Medan melalui produk-produk UMKM yang kita miliki. Banyak kriya dan makanan ringan berkualitas yang layak diperkenalkan kepada tamu dari luar negeri," ujar Rico Waas dengan nada penuh keyakinan terhadap potensi tersembunyi warganya.
Bukan sekadar komoditas benda, sang Wali Kota juga menyelipkan harapan agar eksistensi kultural Kota Medan turut bergaung. Melalui keindahan busana tradisional Melayu, Batak, serta keberagaman etnis lainnya, identitas multikultural kota ini diharapkan dapat menyentuh kesadaran para tamu asing. Tak berhenti di situ, berdasarkan rancangan strategisnya, para delegasi akan diajak menelusuri jejak sejarah di Tjong A Fie Mansion, Istana Maimun, dan kawasan Kebun Bunga dengan difasilitasi oleh armada bus listrik Pemko Medan demi kenyamanan mobilitas mereka.
Lebih jauh lagi, keterlibatan aktif para pelaku usaha lokal dalam ajang K-Food Global Culinary Challenge 2026 dinilai sebagai ruang dialektika yang sangat berharga. Menurut Rico Waas, para perajin kuliner lokal yang bergelut di ranah masakan Korea, Jepang, maupun Tionghoa harus diberi kesempatan bertatap muka dan bertukar ide dengan para chef, profesor, serta mahasiswa dari Korea Selatan.
"Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha lokal dapat mempelajari tren kuliner yang sedang berkembang, termasuk makanan jalanan Korea yang tengah digemari masyarakat," ungkap Rico Waas, menatap optimis masa depan adaptasi industri kuliner kota.
Berdasarkan pemaparan dari Ketua BPD PHRI Sumatera Utara, Melky Maydiroy Waas, rombongan yang terdiri dari 33 delegasi Hyejeon University—termasuk di dalamnya para mahasiswa, profesor, dan master chef—dijadwalkan berada di Sumatera Utara pada tanggal 13 hingga 16 Juli 2026. Sebuah rentang waktu singkat yang diharapkan mampu membuka gerbang kolaborasi yang lebih megah bagi masa depan pariwisata, perhotelan, dan kekuatan domestik Kota Medan.