Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dilaporkan sedang menjajaki kemungkinan tindakan disipliner setelah sekelompok pemain tim nasional Argentina membentangkan spanduk berisi klaim kedaulatan negara mereka atas Kepulauan Falkland. Aksi tersebut dilakukan menyusul kemenangan 2-1 Argentina atas Inggris di babak semifinal Piala Dunia.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi setelah peluit akhir pertandingan ditiup pada hari Rabu lalu, beberapa anggota skuad Argentina terlihat memegang spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas", yang berarti "Falkland adalah milik Argentina". Sejumlah pemain top seperti Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan Giovani Lo Celso termasuk di antara mereka yang membentangkan spanduk yang merujuk pada konflik bersenjata tahun 1982 tersebut.
Konflik bersejarah itu sendiri diketahui telah merenggut nyawa 649 warga Argentina dan 255 warga Inggris. Hingga saat ini, Kepulauan Falkland, yang merupakan Wilayah Seberang Laut Inggris di Atlantik Selatan, tetap menjadi subjek sengketa kedaulatan jangka panjang yang sensitif antara Inggris dan Argentina.
Menurut aturan resmi, FIFA melarang keras segala bentuk pesan politik dalam pertandingan sepak bola. Kasus serupa sebenarnya pernah terjadi pada tahun 2014, di mana asosiasi sepak bola Argentina dijatuhi denda sebesar £20.000 oleh FIFA karena membentangkan spanduk dengan pesan yang sama sebelum pertandingan persahabatan melawan Slovenia.
Menyusul insiden terbaru di Atlanta ini, pemerintah Inggris mendesak FIFA untuk segera melakukan penyelidikan setelah munculnya gelombang kecaman yang masif. Menteri Bisnis Inggris, Peter Kyle, menyatakan bahwa pembentangan spanduk tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan yang melarang aktivitas politik di dalam sepak bola.
Menurut Peter Kyle, salah satu prinsip utama dari gelaran Piala Dunia adalah pemisahan antara politik dan sepak bola. "Itu sekarang menjadi urusan FIFA. Saya berharap FIFA melakukan penyelidikannya secara menyeluruh," kata Kyle dalam pernyataannya.
Berdasarkan laporan dari The Guardian, juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa sang Perdana Menteri mendukung penuh pernyataan Kyle yang mendesak investigasi dari FIFA. Juru bicara tersebut menegaskan bahwa meski trofi Piala Dunia mungkin bukan milik Inggris, namun Kepulauan Falkland dipastikan tetap menjadi bagian dari Inggris.
Selain desakan pemerintah, partai oposisi Liberal Demokrat juga telah menyurati FIFA untuk menuntut agar para pemain Argentina yang terlibat dilarang tampil dalam laga final hari Minggu melawan Spanyol. Pemimpin partai, Ed Davey, merujuk pada sanksi larangan tanding satu pertandingan yang pernah dijatuhkan kepada Rodri dan Alvaro Morata pada Agustus 2024 karena menyanyikan slogan politik serupa.
Menanggapi kontroversi ini, juru bicara FIFA menyatakan bahwa badan pengatur sepak bola dunia tersebut sedang mengkaji laporan pertandingan sebelum memutuskan sanksi. "Sesuai prosedur standar, Komite Disiplin independen FIFA saat ini sedang menilai laporan pertandingan dan mempertimbangkan keadaan terkait sebelum memutuskan langkah selanjutnya berdasarkan Kode Disiplin FIFA," demikian bunyi pernyataan resmi organisasi tersebut.
Di sisi lain, Pemerintah Kepulauan Falkland menyatakan kekecewaan mendalam atas tindakan tim Argentina yang dinilai menodai sportivitas laga semifinal. Dari pengamatan tim redaksi, mereka berharap FIFA dapat memenuhi janjinya untuk menjaga olahraga tetap bersih dari kepentingan politik praktis dan menjatuhkan sanksi yang setimpal.