Di tengah megahnya Grha Ali Sadikin, Balai Kota DKI Jakarta, sebuah ikhtiar untuk menata birokrasi dimulai kembali. Pada Senin, Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Uus Kuswanto resmi membuka Penilaian Pemaparan Penjaringan Kelurahan Berprestasi Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026. Ajang tahunan ini bukan sekadar rutinitas administratif yang dingin, melainkan sebuah instrumen vital dalam merawat tata kelola pemerintahan di tingkat akar rumput, sekaligus menjadi kompas yang mengarahkan Jakarta bertransformasi menjadi kota global yang seutuhnya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan penjelasan Uus Kuswanto, Penjaringan Kelurahan Berprestasi ini merupakan amanat langsung dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 81 Tahun 2015 tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan. Kompetisi ini berfungsi sebagai ruang refleksi untuk mengukur kinerja, merangsang lahirnya inovasi, serta menaikkan derajat pelayanan publik kepada masyarakat. Dalam dinamika ini, para lurah memikul tanggung jawab eksistensial yang besar demi membawa perubahan nyata.
Menurut Uus Kuswanto, seorang lurah berada di garda terdepan dan memiliki posisi strategis untuk menyukseskan visi besar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Target yang dicanangkan tidak main-main: membawa ibu kota menembus jajaran 50 besar kota global pada tahun 2030, dan melesat ke peringkat 20 besar dunia pada tahun 2045 kelak. "Teman-teman yang hadir pada kesempatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan target tersebut. Kelurahan yang berprestasi diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lainnya," tutur Uus dengan penuh harap.
Pelaksanaan evaluasi ini juga bertujuan menakar capaian kinerja aparatur selama setahun terakhir, membakar motivasi kerja, serta mendistribusikan inovasi agar dapat direplikasi oleh wilayah lain. Lebih dari sekadar memenuhi angka-angka indikator di atas kertas, setiap kelurahan diwajibkan memberikan sumbangsih nyata pada program prioritas lingkungan. Uus menegaskan bahwa pengelolaan sampah secara mandiri dari hulu dan penambahan ruang terbuka hijau harus terus disuarakan hingga mengakar menjadi kebudayaan kolektif masyarakat setempat.
Di sisi lain, mimpi besar membangun Jakarta sebagai kota global tidak melupakan sisi kemanusiaan. Pemerataan kesejahteraan diakselerasi melalui berbagai jaring pengaman sosial, seperti Kartu Lansia Jakarta, Kartu Anak Jakarta, Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul, hingga komitmen program sekolah swasta gratis. Secara struktural, wajah kota juga terus dipermak lewat modernisasi transportasi publik terintegrasi seperti pembangunan MRT fase 2A, LRT Jakarta fase 1B, kawasan Jakarta International Stadium, serta penataan kawasan historis Kota Tua.
Menurut Asisten Pemerintahan Sekda DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, agenda penjaringan ini sejatinya ialah bentuk pembinaan daerah demi merangsang ekosistem digitalisasi pelayanan yang adaptif. Kelurahan terbaik yang lolos dari fase ini nantinya akan memikul kehormatan untuk mewakili Provinsi DKI Jakarta di tingkat nasional. Saat ini, ada enam kelurahan dari berbagai wilayah administrasi yang tengah bertarung memperebutkan posisi prestisius tersebut.
Berdasarkan data panitia, keenam kontestan tersebut adalah Kelurahan Kebon Melati, Kelurahan Rorotan, Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kelurahan Pasar Minggu, Kelurahan Cipinang Melayu, hingga Kelurahan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu. Demi menjamin penilaian yang adil dan berbobot, Staf Khusus Gubernur turut dilibatkan sebagai tim penilai. "Tahun ini kami juga melibatkan Staf Khusus Gubernur dalam tim penilai sehingga objektivitas dan kualitas penilaian semakin baik. Harapannya, wakil DKI Jakarta dapat meraih prestasi terbaik di tingkat nasional," pungkas Sigit.